Tips Daftar Haji di Masa Pandemi

Hai, Sobat Blogger!

Daftar Haji di Masa Pandemi

Wabah pandemi COVID-19 masih belum usai. Meski ada beberapa hal yang sudah bisa kita lakukan di luar rumah, tetapi protokol kesehatan, jangan lupa untuk tetap dipatuhi. Apalagi mencakup keuangan juga nih, jangan sampai kita boros. Ada nih tips mengelola gaji untuk kita yang masih sering boros, dari blognya Kak Sepwal.

Setidaknya bagi kita yang masih menerima gaji bulanan dan masih bekerja, harus disyukuri, ya. Apalagi jika punya cita-cita mulia, seperti umroh dan pergi haji. Dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit, loh. Kita harus sangat pandai memilah untuk tabungan umroh/haji, tabungan di masa tua, tabungan membeli rumah, tabungan membeli mobi, dan lain sebagainya.

Tapi untuk kita yang sudah siap dan dan ingin segera daftar haji. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, nih. Sebelum kita lanjut ke tips-tipsnya, ada cerita dari Maryam dan Umar yang daftar haji di tengah-tengah pandemi. Simak dulu ceritanya, yuk!

Baca juga Tak Melulu Materi, 11 Investasi Ini Perlu Kita Punya Loh!

Awal Umar dan Maryam Mendapat Dana Haji

Maryam dan Umar adalah sepasang suami istri yang sudah bertekad untuk pergi haji setelah menikah. Kedua pasutri ini ingin sekali bisa haji dan bisa melaksanakan haji ketika masih muda.

Kenapa kok enggak umroh dulu aja? Karena umroh lebih mudah dan tanpa antri berangkatnya. Jadi Maryam dan Umar ingin mendaftar haji dulu, yang dimana waktunya bertahun-tahun untuk berangkat. Jika memang Allah mudahkan, mereka akan mengumpulkan duit lagi sedikit demi sedikit untuk umroh, sembari menunggu berangkat haji.

Selain itu, motivasi mereka setelah mendengar kajian dari Ustadz Nuzul Dzikri, bahwa ada seorang ulama yang ingin berangkat haji hingga menjual rumahnya. Sampai sebegitunya karena ulama tersebut ingin sekali menunaikan haji dan kebaikan untuk menunaikan haji sangat besar.

Jika ada orang pergi keliling eropa saja dengan menjual rumah dianggap keren, kenapa untuk haji menjual rumah tidak dianggap keren dan dianggap berlebihan? Ingatlah hidup di dunia itu hanya sementara dan akhirat selamanya. Apalagi pergi haji itu balasannya surga. Masyaallah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dari kajian itulah, Umar dan Maryam semakin yakin untuk mendaftar haji semenjak muda. Tujuan utamanya untuk akhirat, agar Allah mudahkan juga urusan dunianya.

Jika kebanyakan pasutri lain, ingin memiliki rumah atau kendaraan mewah. Maryam dan Umar ini mantap untuk mengontrak rumah saja dan uangnya sebagian di tabung untuk dana daftar haji, sebesar 25 juta rupiah untuk satu orang. Untuk berdua, berarti 50 juta rupiah. Itu harga untuk mendaftar haji di tahun 2020 ini.

Ketika niat dan tekad itu datang untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit penghasilan yang telah didapat. Qadarullah, Umar mendapatkan dana haji dari kantornya. Masyaallah, Umar dan Maryam merasa sangat bersyukur. Allah mudahkan niat untuk bisa mendaftar haji segera di tahun ini.

Meski dari kantor Umar, hanya Umar saja yang dibiayai oleh kantor. Alhamdulillah, dana haji untuk Maryam sudah terkumpul juga dan bisa mendaftar haji berdua di tahun yang sama.

Allah Maha Besar dan Maha Kuasa, serta Ia-lah Pemberi Rezeki.


Ù‚ُÙ„ْ Ù…َÙ†ْ ÙŠَرْزُÙ‚ُÙƒُÙ…ْ Ù…ِÙ†َ السَّÙ…َاوَاتِ ÙˆَالْØ£َرْضِ Ù‚ُÙ„ِ اللَّÙ‡ُ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

Ingatlah, niat baik akan Allah jabah. Apalagi niat itu untuk ibadah kepada Allah, pasti akan Allah mudahkan. Jika untuk akhirat saja akan Allah mudahkan, bagaimana dengan kebutuhan dunia? Insyaallah juga akan Allah cukupkan.

Meski Allah mudahkan rezeki Umar dan Maryam untuk mendaftar haji di tahun ini. Namun, tetap saja akan ada kendala dan cobaan ketika mendaftar haji. Umar dan Maryam ingin sekali berbagi kisah ini. Semoga bisa membantu bagi yang ingin mendaftar haji juga di tahun ini dan di tengah-tengah pandemi ini.

Lalu apa saja yang perlu kita persiapkan?

Tips Daftar Haji di Tengah Pandemi

Dari cerita Umar dan Maryam, pendaftaran haji di tengah pandemi ini, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui. Insyaallah, dari ceritanya bisa kita ambil yang baik dan menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Berikut ini ulasannya :

1. Jangan Lupa Protokol Kesehatan

Daftar Haji di Masa Pandemi

Di masa pandemi ini jangan lupa untuk selalu ingat dengan protokol kesehatan. Apalagi ketika daftar haji pasti berkaitan dengan bank. Bank tidak akan mau menerima nasabah yang tidak menggunakan masker. Lalu, jangan lupa untuk selalu cuci tangan ketika mau masuk ke bank atau ke kemenag (Kementrian Agama).

Bawa selalu hand sanitizer di tas. Jika di rasa tidak perlu bersalaman dengan staff bank atau kemenag, ya lebih baik dihindari untuk saling menjaga satu sama lain.

Dari pengalaman Umar dan Maryam, protokol kesehatan di bank dan kemenag, memang sangat ketat. Mereka akan menolak nasabah atau calon haji pulang jika tidak menggunakan masker. Jadi, jangan lupakan protokol kesehatan, jika perlu bawa sarung tangan kain agar lebih aman.

2. Pilih Bank yang Kooperatif dan Dekat Kemenag

Umar dan Maryam bercerita bahwa mereka salah memilih bank ketika akan daftar haji. Ada bank yang kadang CS-nya kurang membantu nasabah dalam melengkapi berkas. Jadi, mencari bank yang kooperatif sangatlah penting.

Bank yang dipilih oleh Umar dan Maryam adalah BSM (Bank Syariah Mandiri). Mereka mengira bank seperti Mandiri Syariah ini akan sangat membantu mereka, karena nasabahnya banyak dan sudah sering mengurusi orang-orang daftar haji. Ternyata itu semua SALAH!

Umar dan Maryam yang memang baru pertama kali daftar haji, dibuat kelimpungan karena harus mondar-mandir antara bank dan kemenag. Jika tidak ada pandemi mungkin tak begitu masalah. Tetapi, karena sedang ada pandemi dan mengurangi keluar rumah, tentu ini menjadikan mereka sangat was-was.

Makanya memilih bank yang dekat kemenag itu juga sangat penting, loh.

Oh, iya bank untuk daftar haji tidak harus sesuai kelurahan domisili kok. Bisa di mana saja. Jadi, lebih baik cari yang deket dengan kemenag. Jika ada berkas-berkas yang kurang bisa langsung ke bank-nya tanpa menunggu besokannya.

Baca juga 15 Hal yang Perlu Diketahui Bahwa Terpaksa Melegakan Hati!

Awal Mula Umar dan Maryam Memilih Bank BSM Untuk Daftar Haji

Daftar Haji di Masa Pandemi

Umar memang sudah memiliki tabungan di BSM. Maka, Umar pikir untuk pemindahan dana dari rekeningnya ke rekening haji akan lebih mudah jika sama-sama di BSM. Apalagi di BSM memang sedang gencar sekali promo daftar haji ini. Tanpa pikir apa-apa, Umar dan Maryam sepakat untuk memilih Bank BSM.

Dua hari sebelum daftar haji, mereka sudah ke bank dahulu dan langsung ke CS-nya untuk menanyakan lebih lanjut perihal pendaftaran haji. Mereka diberikan saran untuk membuat buku tabungan haji dan awal untuk menabung adalah 100.000 rupiah.

Maka, mereka langsung membuat dua tabungan haji di BSM dengan deposit awal 100.000 rupiah per orang. Kalau untuk berdua, ya 200.000 rupiah di masing-masing buku tabungan. Bisa langsung dipotong dari tabungan. Bisa juga langsung bayar ke teller.

Dari pihak BSM juga memberikan beberapa form untuk diisi di rumah, agar lebih cepat prosesnya nanti. CS juga menyarankan datang di pagi hari ketika mendaftar supaya dalam sehari bisa langsung ke kemenag untuk daftar haji.

Setelah itu, dua hari berikutnya, Umar sudah diberikan cek dari kantor untuk mendaftar haji sebesar, 25 juta rupiah. Berangkatlah Umar dan Maryam ke bank di pagi hari sekitar jam 8 pagi. Pada masa pandemi bank buka dari pukul 08:30 sampai 15:00. Umar dan Maryam dapat antrian pertama untuk ke CS. Mereka pun optimis untuk bisa langsung ke kemenag di hari yang sama.

Maklum saja, Umar hanya ambil cuti sehari, jadi mau tak mau harus selesai dalam sehari. Berhubung CS-nya belum ada, mereka dibantu oleh satpam untuk mengisi beberapa form dari bank. Cek yang didapat dari kantor juga tidak bisa langsung digunakan, harus dicairkan dulu dan menunggu sekitar 15-30 menit.

Sambil menunggu cek cair, mereka disuruh mengecek kembali berkas yang diperlukan, yaitu :

  1. Fotokopi KTP 2 lembar
  2. Fotokopi KK (Kartu Keluarga) 2 lembar
  3. Foto ukuran 3x4 sebanyak 6 lembar untuk kemenag dan 5 lembar untuk BSM, background putih dan wajah 80%
  4. Foto ukuran 4x6 sebanyak 6 lembar untuk kemenag, background putih dan wajah 80%
  5. Fotokopi buku nikah/Ijazah/Akta lahir 2 lembar
  6. SPCH (Surat Pernyataan Calon Haji), ini dapat dari bank dan harus ada cap dari bank-nya
  7. Fotokopi buku tabungan bank khusus haji 2 lembar
  8. Fotokopi paspor jika sudah punya 2 lembar
  9. Materai 4 lembar, untuk di bank
Kurang lebih itu yang diperlukan ketika akan daftar haji. Setelah ceknya cair, uang langsung disetorkan ke bank lagi dan dimasukkan ke rekening tabungan haji. Uang pendaftaran haji yang sebesar 25 juta rupiah, juga bisa di transfer lewat mobile banking atau lewat ATM ke rekening tabungan haji. Setelah itu, baru ke CS dan mengisi beberapa form lagi. Memang banyak sekali form yang perlu diisi untuk pendaftaran haji ini.

Waktu untuk menunggu nomer validasi dari bank setelah lunas pembayaran, memang agak lama. Karena dari BSM harus ditransfer lagi ke nomer rekening kemenag. Nah, qadarullah sistem dari kemenag sempat down, jadi Umar dan Maryam disuruh balik lagi sekitar jam 12 siang. Padahal jam 2 kemenag sudah tutup.


Sekitar jam setengah 1, dari pihak BSM menelpon dan nomer validasi sudah keluar. Mereka langsung bersegera ke bank dan lagi-lagi mengisi beberapa form. Setelah dari bank nanti mendapatkan :

  1. Nomer Validasi 4 lembar (1 untuk calon haji, 3 untuk kemenag)
  2. SPCH (Surat Pernyataan Calon Haji)
  3. Buku tabungan haji
Kesalahan Maryam dan Umar tidak mengecek lagi, apakah kelengkapan berkas dari bank sudah semua atau belum. Ternyata, SPCH dan satu lembar nomer validasi belum di berikan oleh CS. Maka dokumen yang diberikan ke kemenag tidak lengkap. Untung saja, staff di kemenag sangat baik sekali. Jadi, mereka tetap diperbolehkan untuk daftar haji hari itu juga. Meski waktunya juga sangat mepet, sudah pukul 2 siang.

Akhirnya, besokannya, Umar harus cuti lagi dari kantor untuk mengurusi berkas-berkas yang kurang. Staff dari kemenag juga bilang bahwa setiap calon haji dari BSM, selalu ada masalah. Nanti ketika pelunasan juga biasanya ada aja masalah di BSM. Nah, dari situlah mereka merasa agak menyesal daftar haji lewat BSM.

Tapi, untungnya, pihak bank dan CS sangat membantu sekali. Mereka tetap melayani Umar dan Maryam dengan baik sampai selesai. Meski ada beberapa dokumen tertinggal. Bisa jadi CS tersebut baru bekerja, jadi belum paham.

Maka dari itu, baiknya bank dan kemenag berdekatan. Jadi, jika ada berkas yang kurang, bisa langsung ke banknya tanpa menunggu hari esok lagi. Kalau bank dan kemenag jauh, jika ada berkas yang kurang, maka harus menunggu hari berikutnya. Tentu, ini merugikan waktu bagi mereka yang bekerja kantoran.

Alhamdulillah, 2 hari mengurus pendaftaran haji, Umar dan Maryam akhirnya telah menyelesaikan dengan baik dan telah mendapatkan nomer porsi. Nomer porsi ini nanti bisa di cek di aplikasi "Haji Pintar" untuk mengetahui kapan keberangkatan haji. 

*Cerita tentang BSM ini, bukan untuk menjatuhkan bank tersebut tetapi kritik kepada mereka agar lebih baik lagi. Banyak cerita dari bank-bank lain, bahwa nasabahnya benar-benar dibantu hingga selesai dari pengecekan berkas. Selain itu, juga prosesnya sangat cepat dan tidak bertele-tele. Jadi, dalam sehari bisa selesai ke bank dan ke kemenag.


3. Cari Tahu Dulu Apakah Kemenag Buka Pendaftaran Haji di Masa Pandemi

Daftar Haji di Masa Pandemi

Sebelumnya Umar dan Maryam merasa ragu untuk mendaftar haji di tengah pandemi begini. Apalagi di tahun 2020, haji dari Indonesia ditunda. Namun, mereka mencari tahu dahulu sebelumnya. Agar bisa lebih mudah mendapatkan ACC dari kantor Umar untuk mendapatkan cek 25 juta rupiah.

Setelah banyak googling, tanya sama teman yang kerja di BSM dan teman yang kerja di tour travel umroh. Akhirnya mendapatkan kepastian bahwa kemenag tetap buka. Namun, memang dibatasi hanya sekitar 20 orang saja sehari.

Padahal untuk daftar haji biasanya hingga 80 orang per hari. Pantas saja antrinya sangat lama sekali, hingga puluhan tahun. Makanya, daftar haji dari muda itu sudah suatu keharusan, agar ketika ke sana tidak terlalu tua dan kondisi fisik masih bugar.

4. Cek Lokasi Kemenag Sebelum Daftar

Dua hari sebelum daftar haji dan setelah membuat tabungan haji, Umar dan Maryam mengecek lokasi Kemenag. Karena memang niatnya hanya ingin sehari untuk mengurus pendaftaran haji ini, maka mereka langsung mengecek lokasi kemenag. Biar tahu juga berapa lama perjalanan dari bank hingga ke lokasi.

Jika sudah tahu, akan lebih mudah untuk mengambil ancang-ancang. Seperti jam berapa ke bank, perkiraan dari bank ke kemenag berapa lama dan lain sebagainya.

5. Cek Kelengkapan Berkas Untuk Daftar Haji

Daftar Haji di Masa Pandemi

Seperti yang sebelumnya diceritakan diatas, berkas kelengkapan haji ini sangat penting. Jika CS-nya kurang aware perihal kelengkapan berkas, calon haji harus double check dan sering menanyakan ke CS bank-nya. Agar kejadian seperti Umar dan Maryam tidak terjadi lagi.

Untuk pas photo terutama wajah 80% itu adalah pas photo dari leher keatas. Jadi muka benar-bener terlihat jelas. Berbeda dari pas photo biasanya. Karena kalau salah akan disuruh cetak ulang oleh petugas di kemenag.

Baca juga Dibalik Kerasnya Seorang Ibu, Ternyata Ini Alasannya!

Nah itu tadi, cerita dari Umar dan Maryam perihal daftar haji di tengah pandemi ini. Apakah ada juga yang berminat daftar haji di tengah pandemi ini? Jika iya, jangan lupa untuk selalu hati-hati ketika berpergian. Tetap patuhi protokol kesehatan, jaga imun juga agar tetap baik.

Jika memang tidak memungkinkan untuk daftar haji di tengah pandemi ini. Lebih baik menunggu saja, hingga kondisi lebih baik dan stabil. Semoga bermanfaat, ya.

Bagi yang ingin segera daftar haji, semoga Allah mudahkan untuk mengumpulkan dananya dan dimudahkan juga untuk keberangkatannya kelak. Aamiin


Salam,
Next Post Previous Post